“Baby Boom” Jangan Dianggap Sepele
Kamis, 14 Agustus 2008|05:22:49WIB
BATAM (BP) - Kepala BKKBN Provinsi Kepulauan Riau, H. Jamaris, HS mengatakan, tingginya angka kelahiran di Batam harus diantisipasi secara dini. Jumlah kelahiran bayi yang tidak terkendali atau baby boom bisa menimbulkan dampak di berbagai sektor kehidupan.
Hal itu disampaikan Jamaris menanggapi komentar Wakil Wali Kota Batam, Ria Saptarika tentang baby boom di harian ini sebelumnya. “Saya terima kasih kepada Wawako atas perhatiannya untuk menyiapkan infrastruktur, berupa sarana pendidikan yang akan menampung laju pertambahan penduduk akibat kelahiran,” katanya, kemarin.
Namun, lanjut Jamaris, yang harus diantisipasi selain itu ke depan, adalah dari aspek sarana yang menyangkut kebutuhan dasar minimal, seperti sandang, pangan, papan, dan kesehatan.
Laju pertumbuhan penduduk, kata Jamaris, tak bisa dianggap sepele. Sebab, implikasi yang ditimbulkan begitu luas. Dari sekarang, pihak-pihak terkait harus konsen untuk menangani masalah yang ada dengan melakukan pengaturan kelahiran. “Salah satu dampak baby boom akan menimbulkan penyediaan sarana untuk fasilitas umum yang tentu saja akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.
Pertumbuhan penduduk alami, seperti yang diungkapkan Ria Saptarika, menurut Jamaris seharusnya diimbangi dengan hak-hak hidup yang layak untuk kesejahteraan penduduk itu sendiri.
Seperti diberitakan, tingginya angka kelahiran di Batam tak membuat Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika khawatir. Kelahiran bayi, dianggapnya sebagai pertumbuhan penduduk alami sehingga tak perlu ditakuti seperti lonjakan penduduk karena urbanisasi.
“Itu kan alamiah. Yang kita khawatirkan itu urbanisasi, karena langsung bersinggungan dengan sektor-sektor yang ada,” katanya di Kantor Wali Kota Batam, Selasa (12/8).
Angka kelahiran bayi di Batam sudah mengkhawatirkan. Dalam enam bulan terakhir, ada 4.984 bayi yang lahir. (why)
  Official Logo of Ria Saptarika
  Mari Sukseskan JOTA & JOTI 2009








Modal pembangunan banyak tergantung dari berbagai aspek. Namun Jumlah penduduk yang banyak tidak dapat menjamin pembangunan bangsa ini bisa terwujud. Lebih baik jumlah penduduk yang seimbang diisi dengan SDM yang mumpuni, ketimbang mereka yang tidak dapat kesempatan memperoleh pendidikan karena kemiskinan. Mereka yang udah miskinpun harus saling bergesekan untuk berebut secuil roti. Apakah dengan hal ini bapak sebagai kepala menutup mata. Saya harap bersama seluruh jajaran bapak dapat memberi solusi yang terbaik. TERIMA KASIH
Jumlah penduduk yang banyak merupakan modal pembangunan,apalgi bila ditunjang peningkatan SDM tergantung gimana mengelolanya.
Yang di khawatirkan tidak siapnya “pengelola” SDM tersebut.